About Us | Contact | Disclaimer | Privacy Policy | Sitemap

Puisi Hari Kemerdekaan RI ke 69

Puisi Hari Kemerdekaan RI ke 69 | Jika ditanya soal hari kemerdekaan, tidak terasa memang indonesia sudah merdeka dan saat ini usia Indonesaia sudah menginjang umur 69 Tahun, bukan umur yang muda lagi, melalu proses panjang indonesia bisa saat seperti ini, dengan perkembangan dan kemajuan di berbagai sektor, seharusnya kita bangga lahir di tanah air indonesia ini.

Untuk merayakan hari kemerdekaan indonesia , kita bisa dengan membuat Puisi untuk hari kemerdekaan, dan juga biasanya ada lomba banyak lomba yang diadakan , diwaktu kecil dulu saya suka sekali dengan tanggal 17 Agustus karena pada hari itulah semua warga berkumpul untuk menyaksikan berbagai lomba yang diadakan pada setiap kampung, lomba yang diadakan seperti Lomba makan kerupu, lomba lari kelereng, dan salah satunya yaitu lomba membaca puisi, dan untuk anda yang sedang mencari referendi Puisi Hari Kemerdekaan, anda bisa lihat contohnya dibawah ini...

Puisi Hari Kemerdekaan RI Ke 69


HARI KEMERDEKAAN

Akhirnya takterlawan olehku
tumpah dimataku, dimata sahabat-sahabatku
ke hati kita semua
bendera-bendera dan bendera-bendera
bendera kebangsaanku
aku menyerah kepada kebanggan lembut
tergenggam satu hal dan kukenal

tanah dimana kuberpijak berderak
awan bertebaran saling memburu
angin meniupkan kehangatan bertanah air
semat getir yang menikam berkali
makin samar
mencapai puncak kepecahnya bunga api
pecahnya kehidupan kegirangan

menjelang subuh aku sendiri
jauh dari tumpahan keriangan dilembah
memandangi tepian laut
tetapi aku menggengam yang lebih berharga
dalam kelam kulihat wajah kebangsaanku
makin bercahaya makin bercahaya
dan fajar mulai kemerahan.


PAHLAWAN TAK DIKENAL

Setahun yang lalu dia terbaring
tetapi bukan tidur, sayang
sebuah lubang peluru bundar didadanya
senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

dia tidak ingin bila mana dia datang
kedua tanganya memeluk senapan
dia tidak tahu untuk siapa dia datang
kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang

wajah sunyi setengah tengadah
menangkap sepi padang senja
dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu
dia masih sangat muda

hari itu 10 November, hujanpun mulai turun
orang-orang ingin kembali memandangnya
sambil merangkai karangan bunga
tapi yang tampak, wajah-wajahnya sendiri yang takdikenalnya

sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
tapi bukan tidur, sayang
sebuah peluru bundar di dadanya
senym bekunya mau berkata : aku sangat muda


KITA BERJUANG

Terbangun aku, terloncat duduk,
kulayangkan pandang jauh keliling,
kulihat hari'lah terang, jernihkan falak,
telah lamalah kiranya fajar menyingsing

kuisap udara
legalah dada,
kupijak tanah
tiada guyah,
kedengar bisikan
hatiku rawan:
"kita berperang,
kita berjuang!"

sebagai dendang menyayu kalbu,
bangkitlah hasrat damba nan larang,
ingin kemedan ridla menyerbu:
"beserta saudara turut bejuang!"

MERAH PUTIH

Merah putih!
dulu, sebelum kau berkibar di tiang tinggi
dibelai, dipeluk angin merdeka,
engakau hanya lambang harapku,

Meski kau mewakili bangsa tidak berdaya, 
tidak bernama di sejarah dunia, 
namun kau tersimpan dalam hatiku, 
lambang kasihku pada nusaku.

Merah putih!
kini, kulihat kau terkibar di tengah bangsa
lambang kebangsaanku di timur raya,
engkau panji perjuanganku
mengejar kemuliaan bagi bangsaku,

dan demi tuhan pencipta bangsaku, 
selama masih bersiut nafas didada,
denyut darahku penyiram medan
ta'kan kembali kau masuk lipatan!

Bagaimana dengan Puisi Hari Kemerdekaan RI diatas? sudah siap untuk membawakannya pada acara 17 Agustus 2014 nanti? atau untuk diikut sertakan pada lomba? silahkan saja...